fbpx
Berita

Torajamelo, Menjadi Social Enterprise yang Mengangkat Derajat Perempuan Penenun Indonesia

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta

Keseriusan Torajamelo dalam membina para perempuan penenun di beberapa desa di Toraja selama 10 tahun terakhir ini membawa banyak kemajuan. Hal itu dibuktikan Torajamelo yang mampu memamerkan hasil karya para penenunnya yang berdampingan dengan koleksi dari negara Asia lain.

Tentu membutuhkan dedikasi dan semangat yang tinggi dari tim Torajamelo untuk membina para perempuan penenun di daerah-daerah terpencil untuk membuat kain tenun buatan tangan asli yang memiliki banyak ragam keunikan dari masing-masing daerah tersebut.

Dinny Jusuf, pendiri Torajamelo, menceritakan bahwa Torajamelo didirikan dengan landasan kecintaannya akan kain tradisional nusantara, khususnya kain tenun. Suaminya yang berasal dari Toraja, membuat Dinny Jusuf ingin berbuat sesuatu untuk daerah keluarga suaminya tersebut, yaitu dengan membebaskan para perempuan miskin dari keterpurukan.

“Saya mendirikan Torajamelo karena saya melihat masih banyak kemiskinan dan kekerasan yang dialami para perempuan di pedesaan, sehingga saya pun tergerak ingin membantu agar para perempuan di desa-desa terpencil di seluruh Indonesia dapat bangkit dan memperbaiki kehidupannya. Harapan saya, mereka dapat menambah penghasilan sekaligus juga menghidupkan seni dan budaya menenun di Indonesia agar tetap lestari karena saat in? Sudah banyak yang ditinggalkan,” cerita Dinny, Jumat (10/9/2018).

Keseriusan dan dedikasi dibutuhkan untuk membina para perempuan penenun yang tinggal di daerah terpencil agar dapat mandiri dan berdikari. Sebagai Social Enterprise, Torajamelo percaya bahwa peranannya adalah agar kain tenun dapat tetap eksis dan menjadi warisan bangsa, dan jangan sampai di klaim oleh negara lain.

Torajamelo pun menghormati para perempuan penenun sebagai artisan dan sangat membeli hasil karya kain tenun mereka dengan harga yang pantas. Hal ini mereka Iakukan untuk menyakinkan para penenun bahwa kain tenun merupakan pekerjaan yang menjanjikan, yang dapat menjadi sumber penghasilan mereka. Hingga kini, banyak yang sudah tertarik untuk terus berkarya dengan menenun. Bahkan, tidak sedikit generasi muda yang mulai tertarik untuk terjun menjadi penenun.

Torajamelo didirikan pada tahun 2008 di Toraja dan bertujuan untuk menghentikan kemiskinan dan kekerasan perempuan melalui kain tenun. Torajamelo lebih memfokuskan kepada pengembangan komunitas penenun, khususnya penenun yang menggunakan alat tenun gedhog. Sehingga mereka dapat menghasilkan uang sembari bekerja dari rumah dan tetap dapat menjaga keluarga mereka.

Dengan suksesnya kerja Torajamelo di Toraja serta atas permintaan banyak komunitas, maka sejak tahun 2013 Torajamelo merambah ke Mamasa, Sulawesi Barat untuk membina para perempuan penenun di sana. Pada tahun 2014, Torajamelo bekerjasama dengan PEKKA (Asosiasi Perempuan Kepala Keluarga) dan memulai kerja di pulau Adonara dan Lembata di Nusa Tenggara Timur.

Artikel Lainnya: