fbpx
Berita

Perajin sandal di Lebak butuh bantuan modal

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Kami berharap adanya ‘bapak angkat’ untuk memajukan produksi sandal, sehingga dapat menyerap lapangan kerja

Lebak (ANTARA) – Perajin sandal di Kabupaten Lebak, Banten, membutuhkan bantuan permodalan guna meningkatkan produksi sehubungan permintaan pasar cenderung meningkat.

“Kita sudah empat tahun mengembangkan usaha ini  namun hanya bertahan hidup,” kata Maryati (40), perajin sandal warga Kecamatan Kalanganyar Kabupaten Lebak, Senin.

Produksi sandal merek Widfel hingga kini dipasok untuk kebutuhan lokal akibat terbentur permodalan. Saat ini, permintaan pedagang sandal dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Lebak cenderung meningkat. Namun, produksi sandal yang menyerap tenaga kerja sebanyak enam orang itu relatif terbatas.

“Kami memproduksi sandal itu sangat terbatas karena kekurangan permodalan itu,” katanya.

Menurut dia, produksi sandal Widfel cukup banyak diminati warga Kabupaten Lebak,  karena harganya terjangkau berkisar Rp25 ribu sampai Rp50 ribu per pasang, slain itu barangnya cukup kuat dan tahan terhadap air .

“Kami cukup berharap adanya ‘bapak angkat’ untuk memajukan produksi sandal, sehingga dapat menyerap lapangan kerja, terlebih warga tempat tinggalnya itu di Kampung Pariuk Desa Sukamekarsari, Kecamatan Kalanganyar kebanyakan menganggur,” katanya.

Begitu juga Samsuri (45) warga Desa Rangkasbitung Timur Kabupaten Lebak mengaku dirinya kini memproduksi sandal dan sepatu setelah adanya permintaan dari konsumen akibat keterbatasan permodalan. Selama ini, dirinya merasa bingung untuk mendapatkan permodalan karena harus memiliki jaminan agunan.

“Kami terpaksa memproduksi sandal dan sepatu setelah ada permintaan konsumen dengan memberikan uang muka sekitar 50 persen,” kata Samsuri mantan buruh sandal di Bandung itu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak Dedi Rahmat mengatakan selama ini pelaku industri kecil dan menengah (IKM) terbentur permodalan akibat kesulitan untuk mendapatkan bantuan kredit usaha rakyat (KUR), karena mereka tidak memiliki jaminan agunan berupa sertifikat tanah maupun surat kepemilikan kendaraan.

Pelaku IKM saat ini membutuhkan bapak angkat agar usaha yang digeluti berkembang sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan penyerapan tenaga kerja lokal.

“Kami berharap perusahaan BUMN maupun perusahaan swasta dapat melirik pelaku IKM menjadi bapak angkat dipastikan usaha mereka berkembang,” ujarnya.

 

Pewarta: Mansyur suryana
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Artikel Lainnya:

    None Found