fbpx
Berita

Pengamat: revitalisasi pasar langkah tepat geliatkan ekonomi

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Jakarta (ANTARA) – Pengamat ekonomi Ahmad Heri Firdaus mengatakan upaya pemerintah melakukan revitalisasi pasar tradisional merupakan langkah tepat untuk menggeliatkan kembali kegiatan ekonomi rakyat.

Ahmad, dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Senin, menyatakan revitalisasi ini tidak hanya menarik minat masyarakat untuk berbelanja, namun juga meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan belanja.

“Kaitannya pertama, menarik kembali konsumen-konsumen supaya mau belanja ke pasar. Kemudian juga meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan utama,” kata Ahmad.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini menjelaskan saat ini masyarakat cenderung menyukai untuk berbelanja di tempat yang nyaman.Oleh karena itu, tambah Ahmad, perbaikan fasilitas pasar tradisional diperlukan agar pasar rakyat tidak sepi pembeli dan kegiatan ekonomi terutama UMKM makin berkembang luas.

“Kalau pasarnya sudah langka terus sudah banyak yang rusak sana-sini, ini perlu ditingkatkan kembali dan diperluas kapasitasnya,” katanya.

Meski demikian, ia mengharapkan upaya perbaikan maupun pengembangan sarana dan prasarana pasar ini dilakukan dengan pemetaan yang lebih presisi atau berdasarkan permintaan suatu wilayah.

“Daerah-daerah yang memiliki kepadatan penduduk lebih besar, ini mungkin perlu pasar tradisional yang lebih luas, kapasitasnya lebih tinggi,” ujar Ahmad.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan berencana melakukan revitalisasi sebanyak 1.037 pasar rakyat pada 2019 untuk melanjutkan program yang telah berjalan.

Pada 2018, proses revitalisasi sebanyak 4.211 unit pasar telah dilakukan, dengan menggunakan dana alokasi khusus dan tugas pembantuan, yang menghasilkan peningkatan omzet hingga 20 persen.

Revitalisasi ini diharapkan mampu meningkatkan eksistensi pasar rakyat dan memperkuat daya tahan pasar tradisional dari persaingan dengan pasar modern.

Pewarta: Satyagraha
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Artikel Lainnya:

    None Found