fbpx
Berita

Minim Infrastruktur Bikin Haiti Jadi Negara Miskin

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Jakarta – Haiti disebut-sebut sebagai salah satu negara miskin yang dijadikan Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sebagai penyetaraan kemiskinan di Indonesia.

Bicara soal kemiskinan dan kondisi ekonomi, Haiti bisa dikatakan jauh tertinggal ketimbang Indonesia.

Mengutip www.cia.gov, Rabu (26/12/2018), diketahui tantangan untuk perekonomian Haiti adalah masih kurangnya pembangunan infrastruktur seperti listrik.

Kondisi ini membuat negara yang terletak di perairan Karibia, benua Amerika itu kurang menarik bagi investor.
Bukan tanpa alasan, Haiti masih belum bisa mandiri secara ekonomi meskipun negara itu sudah cukup lama merdeka. Haiti masih bergantung dari pihak asing untuk pembiayaan. Hingga bantuan tak langsung.

Makin parah, besarnya tantangan Haiti dalam pembangunan juga terjadi paska gempa besar yang melanda pada 2010 lalu. Berdasarkan council of foreign relation atau cfr.org disebutkan paska gempa yang menewaskan 220 ribu penduduk Haiti menciptakan kerugian yang besar.

Dibutuhkan biaya rekonstruksi pembangunan negara hingga US$ 8 miliar dan lebih tinggi dibandingkan produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.

Setelah gempa, rasanya Haiti tak henti disinggahi oleh bencana. Pada 2015-2017 kekeringan melanda Haiti dan menyebabkan gagal panen seluruh lahan pertanian. Kemudian pada 2016 Haiti dilanda badai Matthew dan menghancurkan perumahan warga, melenyapkan ternak dan hancurnya sarana infrastruktur.

Sejumlah wilayah di Haiti juga rentan diserang oleh demam berdarah dan malaria hingga penyakit kolera. Ini menyebabkan ribuan orang meninggal karena penyakit ini.

Parahnya organisasi non pemerintah di Haiti mengelola miliaran dolar AS dana untuk kemanusiaan dengan buruk dan tak sesuai akuntabiitas.

Sejak kemerdekaanya dari Prancis pembangunan di Haiti masih sepenuhnya dikuasi oleh kekuatan asing. Intervensi dari luar negeri masih sangat terasa meskipun Haiti sudah terbebas dari penjajahan Prancis pada 1804. Prancis mengakui Haiti pada 1825 atau 21 tahun setelah dibebaskan.

Meskipun sudah merdeka Haiti masih diminta untuk membayar ganti rugi sebesar US$ 22 miliar hingga 120 tahun ke depan. Ini artinya 80% pendapatan Haiti habis digunakan untuk melunasi utang ke Prancis.

Founder and Executive Director Institute for Justice & Democracy Haiti Brian Concannon mengungkapkan selama satu tahun penuh Haiti harus membayar utang ke Prancis sehingga mengabaikan industrialisasi, pendidikan dan pemerintahan.

“Negara itu benar-benar tidak bisa berkembang,” imbuh dia. (kil/dna)

Artikel Lainnya:

    None Found