fbpx
Berita

Mau Merasakan Jadi Menkeu Sehari? Catat Tanggalnya (Khusus Cewek)

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berkerja sama dengan Yayasan Plan International Indonesia (YPII) untuk menyelenggarakan kegiatan ‘Girls Take Over’. Nantinya, para peserta kegiatan ini akan diberi kesempatan untuk merasakan ‘Sehari Jadi Menteri Keuangan’.

Kegiatan tersebut dilakukan guna memperingati ‘Hari Perempuan Internasional 2019’, yang biasa diselenggarakan setiap 8 Maret di seluruh dunia.

Mengutip CNBC Indonesia, Selasa (5/2/2019) kegiatan ‘Girls Take Over’ sendiri diadakan pada 6 Maret 2019. Selain memperingati Hari Perempuan Internasional kegiatan ini pun bertujuan untuk mempromosikan kesetaraan gender dan kepemimpinan perempuan.

Nantinya, peserta yang telah mendaftar diharuskan membuat video berdurasi 2 menit dengan tema kesetaraan bagi perempuan di Kementerian Keuangan. Lalu pihak YPII dan Kemenkeu akan menyeleksi pemenang untuk bisa merasakan menjadi Menteri Keuangan seharian.

Untuk ketentuan pendaftaran dan informasi lainnya bagi peserta yang berminat bisa mengunjungi situs YPII tentang Girls Take Over.

Menteri Keuangan Sri Mulyani merupakan salah satu menteri yang memiliki perhatian khusus terhadap isu sensitivitas gender. Khususnya, kesetaraan hak pada perempuan.

Dalam acara Annual Meeting IMF World Bank di Bali Oktober 2018 lalu Sri Mulyani menyuarakan keluhannya terhadap paham Patrialisme yang mengakar di Indonesia.

“Saat ini di Indonesia, perempuan masih menjadi prioritas kedua ketika mencari nafkah untuk sebuah keluarga,” kata Sri Mulyani dalam seminar Empowering Women in the Workplace, di Nusa Dua, Bali, seperti dikutip dari detikFinance Selasa (5/2/2019).

Dia menambahkan, perempuan di Indonesia seperti memiliki masa waktu untuk berkarier. Pasalnya perempuan yang baru mulai bekerja memiliki semangat tinggi namun ia juga harus menghadapi pilihan seperti menikah dan memiliki anak.

“Perempuan akan menikah, berkeluarga, mengandung dan memiliki anak. Kegiatan mengurus keluarga ini dianggap menjadi beban tambahan untuk ibu yang juga bekerja,” kata dia.

Oleh karena itu dibutuhkan dukungan untuk perempuan yang bekerja sekaligus menjadi ibu yang mengurus rumah tangga.

Menurut Sri Mulyani, alangkah baiknya jika suatu institusi menjadikan lingkungan kantornya ramah bagi wanita agar para wanita dapat bekerja dengan nyaman dan dapat menunjukkan seluruh potensi yang ia miliki.

“Tanpa adanya bantuan dari kebijakan yang dapat meringankan beban para wanita, maka menggaungkan kesetaraan gender dalam angkatan kerja akan menjadi sangat sulit,” kata Sri Mulyani. (dna/dna)

Artikel Lainnya: