fbpx
Berita

Mantan Wamendag Nilai Impor Pangan Tidak Melulu Buruk

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

VIVA – Impor pangan dari tahun ke tahun menjadi komoditas politik yang paling sering di bawa-bawa, saat memasuki masa pemilihan umum di Indonesia. Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, bahkan mengatakan tidak bakal melakukan impor sama sekali bila terpilih nantinya, sama halnya ketika calon presiden petahana, Joko Widodo pada 2014 lalu.

Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi menilai, pada dasarnya persoalan impor tidak dapat dielakkan bagi siapapun presidennya. Sebab, menurutnya, dalam perdagangan internasional, ekspor impor adalah dua hal yang tidak bisa hapus salah satunya.

“Saya kira, impor tidak bisa dihindari di sampingnya kita ingin ekspor. Kalau kita mau ekspor, berarti ada negara lain yang impor,” tutur dia, saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Kamis 14 Februari 2019.

Meskipun impor adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh suatu pemerintahan demi menjaga stabilitas harga di negaranya, menurut mantan Wakil Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Perdagangan tersebut, itu bukan berarti impor tersebut dilakukan secara serampangan tanpa memperhatikan produsen domestik, dalam hal ini adalah para petani.

“Nah kalau impor, impor banyak, kesejahteraan petani yang kena. Bagaimana kita bisa tetap impor, penuhi impor, tetapi tidak mengganggu kesejahteraan petani,” tegasnya.

Namun begitu, dia menegaskan, impor juga bukan satu-satunya faktor yang dapat merusak kesejahterana petani, karena terganggunya pasar produksinya. Melainkan, kesejahteraan tersebut juga dapat rusak bilamana pemerintah acuh terhadap produktivitas petani, tanpa mendorong efisiensi produksinya.

“Jadi, saya pikir, kita tidak lagi di zaman yang harus menjadi impor phobia, takut sama impor. Saya malah khawatir, kalau ada yang terlalu bersemangat janjikan impor, malah menurut saya itu tidak realistis,” tegas Bayu. (asp)

Artikel Lainnya:

    None Found