fbpx
Berita

Gapit sawi produksi peserta PKH butuh peluang pasar

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) – Makanan kecil hasil produksi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH Karangsari, Sukodono, Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur, berupa gapit sawi membutuhkan pemasaran agar dapat meningkatkan perekonomian Sudarti.

“Saya buat ini sejak 2016, hanya kalau ada pesanan dan bazar,” kata Sudarti di Lumajang, Senin.

Kue gapit yang terbuat dari tepung beras, tepung terigu, santan, gula dan telur ditambah sayuran sawi hijau sebagai inovasi Sudarti.

“Di kampung saya penghasil sawi, jadi untuk meningkatkan nilai jual maka saya buat gapit sawi,” ujar Sudarti yang sudah menjadi peserta PKH sejak 2013 itu.

Sudarti mengklaim makanan ringan buatannya lebih sehat karena mengandung sawi. Menurut dia pembuatan gapit sawi diajarkan oleh mahasiswa yang magang di daerahnya.

Saat ini ia memerlukan pendampingan dan peluang pasar untuk memasarkan gapit sawi yang dijual Rp7.500 setiap kemasannya.

Sebelumnya Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan sebanyak 800 ribu KPM PKH bisa graduasi mandiri atau keluar dari kepesertaan program bantuan tersebut pada 2019.

“Kami juga memberikan edukasi, pendampingan, dan dorongan motivasi di kalangan penerima manfaat bantuan, khususnya PKH melalui Program Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) yang dilakukan oleh 39 ribu SDM terdidik di seluruh Indonesia,” kata Agus.

Untuk membantu KPM PKH mandiri, Kemensos juga menggandeng Kementerian Perindustrian untuk mendukung penumbuhan wirausaha baru dari kalangan penerima manfaat bantuan sosial (bansos).

Baca juga: 96 persen Keluarga Penerima Manfaat puas bantuan Kemsos

Baca juga: Eli Liawati produksi sabun pesanan presiden senilai Rp2 miliar

Pewarta: Desi Purnamawati
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Artikel Lainnya:

    None Found