fbpx
Berita

Di Kampung SBY, PUPR Rampungkan Dua Jembatan 'Indiana Jones'

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

VIVA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau PUPR, mengumumkan penyelesaian pengerjaan dua jembatan gantung yang dibangun di Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur sejak 2018 pada Minggu 13 Januari 2019.

Jembatan gantung tersebut, yakni Banjarsari II dan Kendungbendo.

Setidaknya, sejak 2015 hingga 2018, Kementerian PUPR mencatat, telah membangun sebanyak 164 jembatan gantung dan pada tahun ini direncanakan sebanyak 166 jembatan baru lagi yang bakal dibangun tersebar di seluruh pelosok di Tanah Air.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan, jembatan gantung yang menghubungkan antardesa sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama untuk menggantikan jembatan ‘Indiana Jones.’ 

Jembatan Indiana Jones itu, merupakan istilah yang digunakan Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno, saat melewati jembatan kayu dalam rangka lawatannya ke Desa Tosora, Wajo, Sulawesi Selatan, Rabu 26 Desember 2018. 

“Masih dibutuhkan ribuan jembatan gantung, agar tidak ada lagi jembatan ‘Indiana Jones’ di Indonesia. Kita harapkan ke depan, tidak ada lagi anak-anak sekolah yang bergelantungan seperti ‘Indiana Jones’,” kata Menteri Basuki dalam siaran persnya, dikutip Senin 14 Januari 2019.

Jembatan gantung Banjarsari II dan Kendungbendo, kata Basuki, dibangun untuk menggantikan jembatan antardesa yang hanyut diterjang banjir besar pada 28 Desember 2017. 

Kedua jembatan itu, lanjut Basuki, dibangun dengan panjang masing-masing 120 meter dan lebar 1,8 meter dengan total biaya sebesar Rp6,08 miliar bersumber pada APBN 2018.

Jembatan Gantung Banjarsari II menghubungkan Desa Banjarsari dengan Desa Semanten, Pacitan. Sementara itu, Jembatan Kendungbendo menghubungkan tiga dusun di Desa Kedungbendo dengan Kota Kecamatan Arjosari.   

“Keberadaan jembatan gantung sangat membantu masyarakat, karena geografis wilayah Indonesia yang memiliki banyak gunung, lembah dan sungai. Secara fisik, kondisi ini terkadang memisahkan lokasi tempat tinggal penduduk dengan berbagai fasilitas pelayanan publik seperti sekolah, pasar, dan kantor pemerintahan,” ungkap Basuki.

Karenanya, dia menegaskan, Jembatan gantung dirancang secara matang, mulai dari pemilihan material hingga penerapan teknologi yang berkualitas. Penggunaan material jembatan gantung seperti baja, kabel, dan baut juga menggunakan produk lokal dalam negeri yang dibuat di Indonesia.

“Kehadiran dua jembatan gantung tersebut, sudah sangat dinanti masyarakat untuk kembali meningkatkan konektivitas antardesa di wilayah tersebut. Selain menjadi akses penghubung antardesa, jembatan gantung juga diharapkan menggerakkan ekonomi perdesaan dan menjadi objek wisata desa,” jelas dia. (asp)

Artikel Lainnya:

    None Found