Berita

Dari Astana sampai Istanbul: Cerita Sejumlah Kota yang Berganti Nama

Awal pekan lalu, rakyat Kazakhstan memiliki seorang presiden bernama Nursultan, yang memerintah dari ibu kota Astana.

Kini, presiden itu tidak lagi menjabat dan ibu kota mereka berganti nama menjadi Nursultan.

Nursultan Nazarbayev, pemimpin era Soviet terakhir yang tersisa di dunia, tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya pada Selasa (19/03) setelah hampir 30 tahun berkuasa.

Hari berikutnya, parlemen Kazakhstan memilih untuk mengganti nama ibu kota, Astana, menjadi Nursultan (yang berarti Sultan Cahaya) – untuk menghormati presiden yang akan pensiun.

Pria berusia 78 tahun itu telah memerintah Kazakhstan sejak negara itu memperoleh kemerdekaannya setelah runtuhnya Uni Soviet.

Mengganti nama ibu kota menimbulkan sejumlah tantangan logistik, tidak terkecuali memperbarui semua rambu-rambu jalan, tetapi tidak berarti unik.


Mantan presiden mempertahankan gelarnya sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional seumur hidup. – iStock

Ibu Kota mana saja yang mengadaptasi nama orang?

Beberapa ibu kota negara di dunia diberi nama dengan mengadopsi nama pemimpin.

Amerika Serikat, contoh utamanya, beribu kota Washington DC yang namanya berasal dari presiden pertama George Washington pada 1791.

Nama Presiden Washington juga diabadikan pada sejumlah kota kecil, benteng, dan beberapa puncak gunung. Adapun nama Amerika Serikat diambil dari nama penjelajah Amerigo Vespucci.

Kebetulan, ada juga negara Afrika yang memberi nama ibu kotanya sesuai dengan nama seorang presiden AS.

Ibu kota Liberia, Monrovia, berasal dari nama Presiden AS James Monroe—pendukung kuat pengiriman budak yang dibebaskan kembali ke Afrika.

Permukiman yang didirikan oleh mantan budak dari Amerika dan Karibia diberi nama Liberia, negara republik tertua di Afrika.


Liberia menjadi negara republik pertama di Afrika yang memproklamirkan kemerdekaanya pada 1847. – Getty Images

Di sisi lain, warga Selandia Baru juga menamai kotanya untuk menghormati seorang negarawan.

Wellington, kota besar kedua di Selandia Baru yang menjadi pusat pemerintahan, mendapatkan namanya pada 1840 dari Duke of Wellington pertama, sebagai pengakuan atas dukungan Duke Inggris untuk kolonisasi pulau itu.

Akan tetapi, dalam kasus Vietnam, mengubah nama Saigon menjadi Ho Chi Minh terjadi pada puncak perjuangan melawan penjajahan.

Pada tahun 1975, pada akhir perang Vietnam, ibu kota Saigon saat itu jatuh ke Vietnam Utara yang komunis. Setahun kemudian, kota itu mendapatkan nama baru untuk menghormati pemimpin revolusioner Ho Chi Minh.

Mengubah nama kota bisa membingungkan. Banyak orang, termasuk di Vietnam, masih menyebut kota itu sebagai Saigon, kecuali untuk penggunaan resmi.


George Washington telah memberikan namanya ke banyak tempat lain selain ibu kota AS. – Getty Images

Bisnis yang mahal

Mengganti nama kota juga disertai dengan biaya.

Para pembuat peta di seluruh dunia diharuskan memutakhirkan peta mereka dengan nama-nama baru.

Penanda di dalam dan sekitar kota perlu dibuat lagi, dokumen resmi direvisi, brosur dicetak ulang, dan publik internasional harus diinformasikan tentang keputusan tersebut.

Jangankan kota, perubahan nama organisasi dapat memunculkan tagihan besar.

Pada 2002, Federasi Gulat Dunia atau World Wrestling Federation dan Word Wide Fund (WWF) for Nature terlibat dalam sengketa hukum mengenai hak untuk menggunakan inisial WWF.

Pada akhirnya, pegulatlah yang harus menanggung kekalahan di pengadilan.


Setelah perebutan nama yang mahal, Federasi Gulat Dunia sekarang dikenal sebagai Hiburan Gulat Dunia. – Getty Images

Federasi memperkirakan bahwa perubahan nama akan menelan biaya sekitar US$45 juta, atau setara Rp643 miliar.

Ada juga perkiraan biaya untuk negara yang memutuskan untuk mengubah namanya.

Pada April 2018, Raja Mswati III dari Swaziland, sebuah negara kecil berpenduduk sekitar 1,5 juta orang di Afrika selatan, mengubah nama negaranya menjadi eSwatini.

Hal itu diumumkan sebagai langkah untuk membersihkan negara dari bekas nama kolonialnya.

Pengacara kekayaan intelektual yang berbasis di Afrika Selatan Darren Olivier memperkirakan biaya penggantian nama sekitar US$6 juta, atau setara Rp84,9 miliar.

Ini adalah perkiraan kasar berdasarkan latihan penggantian nama yang dilakukan perusahaan besar.


Raja Mswati III dari eSwatini telah menerima reaksi beragam dari rakyatnya setelah mengubah nama negara. – Getty Images

Dia mengatakan anggaran penggantian nama biasanya mengambil 10?ri keseluruhan biaya pemasaran, yang pada gilirannya berkisar sekitar 6?ri total pendapatan perusahaan.

eSwatini adalah negara miskin, dan berdasarkan pendapatan kena pajak dan tidak kena pajaknya yang sebesar US$1 miliar (Rp 14,3 triliun) latihan rebranding diperkirakan mencapai US$6 juta, menurut perhitungan orang tersebut.

Ini adalah label harga yang cukup besar, dan lebih jauh lagi, sejarah memberi tahu kita bahwa tidak ada jaminan nama baru akan melekat.

Pembalikan branding ulang

Pada tahun 1924, lima hari setelah kematian Vladimir Lenin, kota Petrograd diubah namanya menjadi Leningrad oleh pemerintah Soviet untuk menghormati kaum revolusioner Rusia.

Tetapi pada 1991, ketika Uni Soviet berakhir, nama kota itu kembali diubah. Penduduk memilih untuk menyebut kota itu seperti yang telah dikenal sebelum Perang Dunia Satu, yaitu St Petersburg.

Ada kota lain di Rusia yang namanya diubah. Kota Volgograd pernah berganti nama sebanyak dua kali – keduanya selama masa Soviet.

Awalnya pada 1925, Tsaritsyn, sebuah pelabuhan sungai di Volga, dinamai sesuai nama Joseph Stalin, yang telah memimpin pasukan Bolshevik di sana selama Perang Saudara Rusia.

Tetapi pada tahun 1961, setelah kematian Stalin, pemimpin Soviet Khrushchev mengubah nama kota itu lagi dari Stalingrad menjadi Volgograd (Kota Volga).


Tidak ada lagi Leningrad. Orang-orang di St Petersburg mengadakan pemungutan suara untuk mengubah nama kota mereka. – Getty Images

Itu adalah keputusan sadar untuk menghapus asosiasi kota – yang melambangkan perlawanan Uni Soviet selama Perang Dunia Kedua – dengan Josef Stalin.

Para pemimpin komunis Rusia memiliki nama mereka di peta dunia selama kurang dari 70 tahun.

Kadang-kadang, pertarungan identitas tempat dan politiknya berlangsung selama berabad-abad, seperti di Turki.

Legenda mengatakan bahwa kota Yunani Byzantium, dibangun di tepi Selat Bosporus sekitar abad ke-7 SM, dinamai sesuai dengan raja yang disebut Byzas.

Kebanggaan nasional

Tetapi kemudian datanglah Kaisar Constantine pada abad ke-4 M, dan kota itu kemudian disebut Konstantinopel, Kota Constantine.


Kota Istanbul di Turki kehilangan statusnya sebagai ibu kota dari Ankara pada tahun 1923. – Getty Images

Setelah kota itu jatuh di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman, orang Turki menyebutnya Istanbul, tetapi nama internasional kota itu tetap sebagai Konstantinopel, sampai awal abad ke-20 ketika kantor pos Turki menolak mengirimkan surat yang ditujukan kepada Konstantinopel.

Mungkin diambil sebagai pelajaran bagi para pemimpin dunia bahwa nama tidak ada yang dapat dijamin untuk bertahan hidup di kota, bahkan setelah 1.600 tahun.