fbpx
Berita

BMI: Prabowo-Sandi Jawaban Krisis Kepemimpinan Nasional

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Surabaya (beritajatim.com) – Menjadi bangsa yang besar tentu mempunyai tantangan yang besar. Untuk itu, diperlukan sosok pemimpin yang tidak saja mampu mengeluarkan bangsa ini dari kompleksitas persoalannya.
“Tidak hanya cukup jeli dalam melihat gerak peradaban dunia, ia juga harus memastikan arah pembangunan berpihak pada anak bangsa. Sehingga, keberadaan dan kewibawaan sebuah negara, yang berdaulat, adil dan makmur benar-benar nyata di hadapan rakyatnya,” kata Sekjen Bintang Mercy Indonesia (BMI), Anwar Sadad melalui rilisnya kepada beritajatim.com.

Menurut dia, Indonesia sebagai bangsa yang besar, membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya pandai menunjukkan kerja-kerja yang bersifat artifisial, senang pencitraan, mencabut subsidi, hutang negara yang menjulang, serta program tanpa perencanaan yang matang.

“Pemimpin juga harus memastikan pertumbuhan ekonomi agar tidak stagnan, menurunkan angka kemiskinan, menjamin keamanan dan janji-janji yang sesuai dengan apa yang telah diucapkan. Bukan hanya dicekoki oleh kemajuan yang menipu,” imbuh Ketua Umum BMI Farhan Effendy.

Menurut dia, ekonomi Indonesia tengah tidak menentu, carut marut dan cenderung kacau. Pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir hanya berkutat di angka 5 persen, kemiskinan hanya turun 1 persen, pengangguran masih berkisar di angka 7 juta orang, daya beli masyarakat menurun.

“Ini masih ditambah tindakan serampangan dalam mengurus laju kurs rupiah, utang pemerintah mencapai angka Rp 4.180,61 triliun, kebutuhan pokok nyaris tak pernah turun, dan celakanya orang kaya meningkat lebih dari 10 persen hampir tiap tahun. Inilah yang gagal dibaca oleh pemimpin kita,” jelasnya.

Selama empat tahun kepemimpinan Jokowi-JK, lanjut dia, belum ada perubahan mendasar dan substansial bagi bangsa Indonesia. Malah cenderung melahirkan berbagai macam persoalan pokok yang seharusnya tidak terjadi.

“Kecenderungan mengorbankan kerukunan sesama anak bangsa terpampang nyata, padahal di atas semua persoalan pembangunan yang dibanggakan tersebut, menjaga kohesivitas sosial merupakan modal dasar kita sebagai pemimpin bangsa yang benar,” paparnya.

Dalam rilis Global Peace Index tingkat keamanan negara Indonesia berada pada peringkat 52 dunia. Di tingkat Asia Tenggara, Indonesia masih kalah dari Laos yang berada di angka 45.

surabaya (beritajatim.com) – menjadi bangsa yang besar tentu mempunyai tantangan yang besar. untuk itu, diperlukan sosok pemimpin yang tidak saja mamp

“Tidak perlu kita melihat posisi Malaysia yang menempati peringkat 29, apalagi negara Singapura yang nyaman berada di level 21 dunia. Artinya, pembangunan yang sudah dilakukan oleh rezim saat ini, tidak serta merta menjamin tingkat keamanan dan kedamaian rakyatnya. Apakah itu yang disebut sebagai pemimpin bangsa besar yang benar?

Prabowo-Sandi adalah jawaban atas krisis kepemimpinan nasional,” ujarnya.

Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno adalah sosok dua pemimpin nasional yang sepadan. Dari ucapan dan tindakan serta cita-cita, Prabowo-Sandi dinilai sama-sama menginginkan perubahan yang signifikan bagi bangsa Indonesia di masa-masa mendatang.

“Mereka merupakan sosok nasionalis sejati, jujur, aspiratif yang sepanjang hidupnya terus menghibahkan diri kepada bangsa dan negara. Keduanya merupakan sosok pemimpin yang sudah paham betul seluk-beluk persoalan mendasar bagi bangsa Indonesia,” tuturnya.

Dia menegaskan, Prabowo dan Sandi menjadi duet ideal untuk memimpin Indonesia. Apalagi di tengah krisis kepemimpinan nasional yang terus mendera bangsa. “Kondisi itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Mereka harus tampil sebagai pendobrak sekaligus solusi dari situasi krisis. Prabowo dengan segala pengalamannya dan jenjang karir yang jelas, sementara dalam diri Sandi, terpatri tekad yang kuat untuk melakukan pengabdian dan perubahan. Aura kepemimpinannya sangat kentara. Sebab, Sandi memang terlahir sebagai pemimpin (the next leader),” pungkasnya. (tok/kun)

Artikel Lainnya: