fbpx
Berita

BI Pamer Perdagangan RI dan Malaysia Tak Lagi Gunakan Dolar AS

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini terus bergerak, namun masih berada di posisi Rp 14.000an. Banyak cara yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk menjaga nilai tukar, mulai dari intervensi di pasar hingga melakukan kerja sama dengan sejumlah negara mitra dagang.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menjelaskan saat ini Indonesia bersama sejumlah negara sudah memiliki cara untuk mengurangi ketergantungan dolar AS dalam perdagangan.

“Kita ada inisiatif bersama Malaysia dan Thailand untuk membayar transaksi perdagangan tanpa menggunakan dolar AS jadi bisa langsung menggunakan Thailand Baht dan Ringgit,” kata Mirza dalam Maybak Outlook di Hotel Ritz Carlton PP, Jakarta, Senin (11/3/2019).

Dia menyebutkan hal ini diharapkan bisa membantu penguatan nilai tukar mata uang negara masing-masing terhadap dolar AS.

“Jadi jika ada perdagangan atau ekspor impor, kebutuhan dolar AS berkurang, karena lebih mudah,” jelas dia.

Pada 11 Desember 2017 bank sentral ketiga negara, Indonesia, Malaysia dan Thailand sepakat untuk tak lagi menggunakan dolar AS sebagai mata uang perdagangan. Kesepakatan ini dinamakan Local Currency Settlement (LCS) dan sudah berlaku pada 1 Januari 2018.

Kesepakatan ini juga diharapkan bisa mempercepat transaksi perdagangan. Karena masing-masing negara tak perlu mengonversikan mata uangnya ke dolar AS baru kemudian ke negara tujuan.

Dari data BI total perdagangan antar tiga negara ini selama 5 tahun terakhir tercatat US$ 1,2 triliun atau setara dengan Rp 1.620 triliun atau sekitar 50% dari total perdagangan ASEAN.

Dalam periode 2010-2016, volume transaksi perdagangan antara Indonesia dan Malaysia tercatat US$ 19,5 miliar atau setara dengan Rp 263 triliun (kurs Rp 13.500) Lalu untuk perdagangan antara Indonesia dan Thailand rata-rata US$ 15 miliar atau setara dengan Rp 202 triliun.

3 tahun terakhir perdagangan antara Indonesia dengan Thailand, disebutkan rata-rata impor Indonesia dari Thailand US$ 10 miliar atau dengan pangsa 5,7% dari keseluruhan impor dari mitra dagang. Sedangkan ekspor ke Thailand rata-rata US$ 5,9 miliar atau 3,4% dari total ekspor ke mitra dagangan Indonesia.

Sedangkan Indonesia dengan Malaysia rata-rata nilai impor dalam tiga tahun terakhir adalah US$ 11,5 miliar atau 6,6% dari keseluruhan impor. Sedangkan ekspor Indonesia dalam tiga tahun terakhir rata-rata US$ 9.6 miliar atau 5,5% dari total ekspor.

Untuk penggunaan mata uang dalam ekspor impor, penggunaan Baht dalam impor dari Thailand hanya US$ 0.28 miliar atau 0,2% dari keseluruhan pembayaran impor. Demikian pula penggunaan Malaysian Ringgit hanya US$ 0,44 miliar atau 0,3% keseluruhan pembayaran impor.

(kil/eds)

Artikel Lainnya:

    None Found