Berita

Barbie Kumalasari Bangga Jadi Hiperseksual, Perlukah ke Dokter?

VIVA – Video Barbie Kumalasari yang blak-blakan mengenai hubungan seksualnya baru-baru ini viral di media sosial Youtube. Dalam video itu ia mengaku bisa melakukan hubungan seks hingga delapan kali sehari. 

Dalam suatu sesi ia juga mengatakan bahwa dirinya pernah mencapai 25 kali orgasme selama rentang waktu empat jam. Hal inilah yang membuatnya mengklaim bahwa dirinya merupakan seorang hyperseks

“Kalau aku sih malah senang kalau dibilang hyper. Karena kan setiap orang itu memang beda-beda, satu staminanya,” kata dia.

Tapi, apa sebenarnya definisi hiperseksual, dan apa saja tanda-tanda seorang yang mengalami hiperseksual?

Seperti dilansir dari Mayo Clinic, hiperseksual sering juga dikenal dengan perilaku seksual kompulsif, atau gangguan hiperseksualitas atau kecanduan seksual. Ini adalah suatu kondisi saat seorang memiliki kenikmatan berlebih pada fantasi seksual, dorongan atau perilaku yang sulit dikendalikan.

Hal ini tidak jarang menyebabkan seorang tertekan, atau secara negatif memengaruhi kesehatan, pekerjaan, hubungan, atau bagian lain dari kehidupan.

Hiperseksualitas sebelumnya masuk ke dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat. Namun, para ahli mencatat bahwa tidak ada bukti empiris yang cukup untuk mendukung diagnosis itu.

Banyak yang tidak melihatnya sebagai kecanduan dan percaya itu tidak memiliki kesamaan dengan kecanduan lainnya. Untuk itu, ia tidak lagi dimasukkan ke dalam DSM edisi kelima.  

Masih belum jelas, apa penyebab seorang mengalami hiperseksualitas. Tapi beberapa ahli menduga ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan bahan kimia otak alami. 

Bahan kimia tertentu di otak (neurotransmiter) seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin membantu mengatur suasana hati. Tingginya tingkat neurotransmiter juga mungkin berkaitan dengan perilaku seksual kompulsif.

Perilaku seksual kompulsif juga mungkin merupakan kecanduan yang seiring waktu dapat menyebabkan perubahan pada sirkuit saraf otak, terutama di pusat-pusat penguatan otak. Seperti kecanduan lainnya, konten dan stimulasi seksual yang lebih intensif biasanya dibutuhkan seiring waktu untuk mendapatkan kepuasan. 

Meski demikian, seorang yang mengalami hiperseks bisa dikenali dengan beberapa gejala, seperti memiliki fantasi, dorongan, dan perilaku seksual yang berulang dan intens. Hal itu sering membuat seorang menghabiskan banyak waktu dan merasa seolah-olah itu di luar kendali.

Indikasi lainnya juga apabila seorang merasa terdorong untuk melakukan perilaku seksual tertentu, dan merasakan pelepasan ketegangan sesudahnya, tetapi juga merasa bersalah atau menyesal. Selain itu, jika seorang yang gagal untuk mengurangi atau mengendalikan fantasi, dorongan, atau perilaku seksual ini juga bisa menjadi gejala seorang mengalami hiperseksualitas. 

Seorang juga bisa disebut hiperseksual apabila ia menggunakan perilaku seksual kompulsif sebagai pelarian dari masalah lain, seperti kesepian, depresi, kecemasan atau stres.

Oleh sebab itu, segera cari bantuan jika merasa kehilangan kendali atas perilaku seksual. Terutama jika perilaku itu menyebabkan masalah bagi Anda atau orang lain.  

Perilaku seksual kompulsif cenderung meningkat dari waktu ke waktu, jadi dapatkan bantuan saat pertama kali mengenali mungkin ada masalah.