fbpx
Berita

Agar Harga Bawang Merah Membaik, Pedagang Harus Beli ke Petani

Berita ini terbit pertama kali pada tautan ini.

Jakarta – Sekjen Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Ikhwan mengatakan harga bawang di tingkat petani Brebes saat ini berangsur naik. Harga tersebut bahkan mencapai Rp 10 ribu dibanding harga awal yang hanya berkisar di Rp 8 ribu.

“Sesampainya di Pasar Induk Kramat Jati bisa mencapai 13 ribu per kilo. Ini kan sesuatu yang positif. Makanya kami yakin harga akan terus membaik, karena tren saat ini sudah kelihatan baik,” kata Ikhwan, dalam keterangannya Kamis (14/2/2019).

Secara singkat, pola tanam bawang merah di Brebes ditanam dengan menggunakan pola biasa, yakni 2 hingga 3 kali dalam setahun atau bisa dibilang hanya sekali bergantian dengan padi. Namun, lanjut Ikhwan, petani Brebes bukan petani ikut-ikutan yang muncul saat ada bantuan APBN atau saat harga tinggi baru kemudian ikut menanam.

“Harga naik maupun turun, untung atau rugi para petani disini tetap bertanam. Bahkan mereka berani ekspansi ke daerah lain seperti Pemalang, Kendal dan Majalengka. Kemudian saat musim hujan, petani juga tetap berani tanam. Jadi, naik turun harga itu sudah biasa, toh hal itu tidak hanya terjadi di bawang merah,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Petani Champion Bawang Merah Indonesia, Juwari menyarankan para pedagang besar agar mau membeli bawang merah secara langsung dari petani lokal. Lalu, sebaiknya mereka menyimpan terlebih dulu di gudang-gudang penyimpanan.

“Artinya kerja sama dengan industri pengolahan perlu ditingkatkan. Kemudian saya juga mohon agar Bulog dan Kemendag dapat membantu menyerap bawang merah petani dan menyimpannya di CAS (controlled atmosphere storage),” terangnya.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh. Ismail Wahab menambahkan budidaya bawang merah sampai saat ini masih menguntungkan. Menurutnya, Animo petani untuk tanam bawang merah masih sangat tinggi di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di Brebes.

“Ini artinya tanam bawang merah masih menguntungkan selama bisa diatur pola tanam dan diperbaiki tata cara budidayanya. Efisiensi produksi dengan membuat pupuk organik dan pestisida hayati sendiri akan lebih irit dan tentunya ramah lingkungan,” jelasnya.

Sebagai pengingat, pemerintah terus melakukan pemantauan pergerakan harga dan produksi bawang sebagai komoditas strategis nasional. Berbagai upaya juga terus dilakukan untuk menstabilisasi pasokan dan harganya. Salah satunya dengan memperlancar distribusi logistik, menambah sarana budidaya hingga gudang-gudang penyimpanan yang tersebar di sentra-sentra produksi.

Perlu diketahui, sebagai komoditas nonsubstitutif, bawang merah memiliki andil dalam inflasi nasional. Sebelum tahun 2017, harga bawang merah hampir selalu fluktuatif terutama menjelang Hari Raya Besar Keagamaan dan Tahun Baru. Namun dalam kurun 2 tahun terakhir ini harganya lebih stabil dan masyarakat menikmati harga yang wajar.

Brebes selama ini dikenal sebagai sentra terbesar bawang merah di Indonesia. Brebes memberikan andil hingga 30% dari total produksi nasional yang mencapai 1,4 juta ton lebih. Petani Brebes sangat terkenal ulet dan sangat ‘minded’ dengan bawang merah. Keuletan dan ketangguhan petani Brebes telah diakui banyak pihak.

“Dalam kondisi apapun, mereka tetap menanam bawang merah sebagai penopang ekonomi rumah tangganya. Boleh dibilang, Bawang Merah telah mandarah daging sebagai komoditas andalan petani Brebes,” ungkap Ismail Wahab. (mul/mpr)

Artikel Lainnya:

    None Found